Otomotif

Kisah Royal Enfield Sebelum Memproduksi Motor di India

8
×

Kisah Royal Enfield Sebelum Memproduksi Motor di India

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan sedang melelang puluhan unit motor Royal Enfield. Melalui lelang itu, para penggemar Royal Enfield digadang-gadang mampu mendapat motor yang disebutkan dengan harga jual tambahan murah. 

Royal Enfield merupakan motor yang sudah ada tak asing ditelinga pecinta kendaraan beroda dua motor di Indonesia. Merek kuda besi dengan syarat Inggris itu telah lama berubah menjadi salah satu merek sepeda gowes motor yang mempunyai sejarah panjang dan juga dikenal ke seluruh dunia. Beberapa model kendaraan beroda dua motor yang digunakan terkenal dari Royal Enfield adalah Classic 350, Himalayan, kemudian Interceptor 650, yang dimaksud dirancang untuk beragam jenis pengendaraan.

Sejarah Royal Enfield bermula secara simpel ke pabrik yang digunakan terletak di dalam Perkotaan Redditch, Inggris, pada 1901. Pusat Kota Redditch terkenal pada masa revolusi sektor lantaran keunggulan produksi jarum serta pancingnya. Pusat Kota ini juga melahirkan ahli-ahli mesin terampil di menciptakan bagian presisi pada drills, mesin pemotong gear, welding rigs, dan juga mesin bubut ke pabrik bawah tanah Royal Enfield.

Pabrik Royal Enfield didirikan di tempat kejadian tambang batu yang dimaksud sudah pernah ditinggalkan pada Westwood, dekat Bradford, Avon pedesaan Wiltshire. Pabrik bawah tanah yang dimaksud tahan ledakan bom sehingga cukup aman tidaklah hanya sekali untuk memproduksi motor, namun menciptakan anti-aircraft guns diantaranya alat prediksi pengendalian senjata anti-aircraft yang dimaksud akurat.

Pecahnya pertempuran bola mengakhiri rencana produksi sipil untuk Royal Enfield Redditch. Pada masa pertempuran ini, semua warga dan juga produsen pada Inggris bergabung bergabung, termasuk Royal Enfield. Pabrik ini menghentikan produksi kendaraan beroda dua motor sipil serta mengembangkan sepeda gowes motor khusus yang mana disebut ‘Flying Flea’.

Motor berwarna hijau zaitun yang dimaksud diadopsi angkatan bersenjata Inggris, khususnya pasukan terjun payung. Royal Enfield yang tersebut dikenal sebagai model WD/RE dirancang khusus sehingga dapat dijatuhkan ke wilayah musuh untuk membantu pasukan udara pada merancang jalur komunikasi.

Kemampuan rangka motor 125cc 2-stroke ini menghasilkan Flying Flea mampu diturunkan tepat di dalam belakang garis lawan. Kondisi ini memberikan keuntungan mobilitas kemudian komunikasi yang penting bagi pasukan terjun payung yang digunakan terkenal pada pertempuran Arnhem pada 1944.

Setelah masa perang, pabrik bawah tanah Royal Enfield permanen menjalankan suku cadang yang dimaksud akhirnya melengkapi semua komponen sepeda gowes motor. Di bawah kendali perusahaan yang digunakan baru dibentuk, Enfield Precision Engineering, infrastruktur yang dimaksud cuma memproduksi motor pencegat antara 1967 serta penutupannya pada 1970.

Beberapa mantan karyawan Enfield kemudian mengambil alih bagian Westwood lalu menggunakannya sebagai bengkel selama dua dekade. Area penyimpanan sampai pada waktu ini masih digunakan oleh perusahaan keamanan swasta sebagai sarana pengarsipan serta loker.

Model Royal Enfield pun kembali ke jalur sipil guna memberikan transportasi yang dimaksud terjangkau bagi masyarakat. Pada 1950, sepeda gowes motor ini dilengkapi telescopic fork juga dalam setahun kemudian dilengkapi gearbox yang dioperasikan dengan kaki.

Pada 1950-an, pabrik Royal Enfield bereksperimen dengan berbagai warna pada kendaraan beroda dua motor, ada nuansa warna yang lembut namun ada pula warna yang digunakan mencolok lalu berani. Pada akhir dekade ini, tercipta tiga nada warna yakni hijau, merah kemudian biru yang tersebut muncul pada model Crusader, Clipper, Bullet serta Meteor Minor.

Sepeda motor klasik ini juga diklaim telah lama teruji serta menciptakan berbagai rekor, salah satunya Winifred Wells, pelopor kendaraan beroda dua motor dan juga legenda Royal Enfield.  Pada 1950, pria itu ia mengendarai motor Royal Enfield Bullet 350cc dari Perth ke Sydney, Australia, serta kembali lagi. Ia menempuh jarak lebih besar dari 5.500 mil hanya sekali pada 22 hari.

Kurang dari 2 tahun kemudian, ditemani ayahnya, Winifred kembali mengelilingi benua Australia. Keduanya menempuh jarak hampir 10.000 mil pada 65 hari dan juga berjuang menerjang suhu 44 derajat Celcius.

Saat ini, Royal Enfield yang tersebut awalnya dimiliki oleh The Enfield Cycle Company di Inggris diproduksi ke India. Dikutip dari slashgear.com, merek ini telah terjadi dimiliki oleh Eicher Motors Limited, sebuah perusahaan India yang tersebut bekerjasama dengan perusahaan kendaraan komersial, Volvo.

Pasca Perang Global II, dan juga setelahnya India merdeka dari kekuasaan Inggris pada 1947, negara yang dimaksud mencari sepeda gowes motor untuk pasukan polisi juga tentara. Mereka memesan 500 unit Royal Enfield Bullet 350cc dari The Enfield Cycle Company, dan juga diimpor oleh Madras Motors, sebuah perusahaan swasta yang mana sudah pernah mengimpor kendaraan beroda dua Royal Enfield, Norton, lalu Matchless ke negara yang disebutkan sejak 1949.

Kemudian, pada 1955 The Enfield Cycle Company bermitra dengan Madras Motors untuk merakit kendaraan beroda dua motor Royal Enfield Bullet di dalam India. Mereka membentuk perusahaan Enfield India dengan saham mayoritas dimiliki oleh perusahaan India tersebut. Enfield India kemudian menerima perkakas dari perusahaan Inggris untuk memproduksi seluruh kendaraan beroda dua motor. Organisasi ini terus memproduksi merek Enfield di India selama hampir 40 tahun, kemudian diakuisisi oleh Eicher Motors pada 1994.

Disamping itu, The Enfield Cycle Company di Inggris bangkrut pada 1971 pasca pabrik Redditch ditutup pada 1967. Segera pasca diakuisisi oleh Eicher Motors, Enfield India diubah namanya berubah menjadi Royal Enfield Motor. Korporasi juga mulai menggunakan branding Royal Enfield serta mulai jual sepeda gowes motornya dalam Inggris.

Menyusul tuntutan hukum di Inggris pada 1999, Kantor Kekayaan Intelektual Inggris memutuskan bahwa mereka tidak ada keberatan dengan pengaplikasian merek dagang Royal Enfield oleh Eicher Motors. Kini, Royal Enfield menjadi pemain global terdepan di segmen sepeda gowes motor kelas menengah (250cc – 750cc). Memiliki portofolio barang yang kuat kemudian bervariasi, merek buatan India ini mempunyai lebih tinggi dari 10 jt penggemar ke seantero dunia.

KHUMAR MAHENDRA | MOH KHORY ALFARIZI | WAWAN PRIYANTO

Artikel ini disadur dari Kisah Royal Enfield Sebelum Memproduksi Motor di India